Image description
apa artinya bet
Haruskah Kita Bertaruh?

Definisi Bertaruh

Menurut Oxford Dictionary, arti bertaruh adalah: mempertaruhkan sesuatu, biasanya sejumlah uang tertentu, dengan orang lain terhadap hasil di masa depan. Hal ini dapat disamakan dengan taruhan, namun tentu dengan derajat yang berbeda-beda. Taruhan bagi seseorang yang bertaruh rolet di kasino tentu berbeda dengan makna 'taruhan' dalam kata-kata "gue taruhan ntar sore pasti ujan."

Namun intinya adalah setiap saat kita bisa berada di dalam situasi 'bertaruh' terhadap sesuatu yang tidak pasti di masa depan. Secara definisi, masa depan tentu adalah ketidakpastian. Entah itu cuaca, calon pasangan hidup, karir, investasi dan sebagainya. Yang berbeda karenanya apa yang dipertaruhkan, berapa penting hal tersebut pada anda, dan jangka waktu kapan realisasi atau horizon dari 'taruhan' anda tersebut.

Jadi yang menjadi pertimbangan dalam proses pengambilan keputusan untuk tidak membawa payung ketika anda ingin berbelanja cemilan di minimarket sekitar kompleks dibandingkan dengan menempatkan uang pensiun anda di satu aset, dalam kerangka apa, berapa dan kapan di atas tentu akan berbeda.

Untuk berhasil, Anda harus bertahan terlebih dahulu.

Kutipan di atas sering diatribusikan kepada Buffett dan Taleb, yang mengingatkan kita tentang pentingnya berapa dalam bertaruh. Apapun itu. Menempatkan seluruh uang pensiun anda ketika masa pensiun tinggal 1 tahun lagi tentu sangat berisiko secara relatif dibandingkan dengan anak SMU yang menempatkan seluruh uang jajannya pada satu saham. Kalau perkiraan calon pensiunan tersebut meleset maka akibatnya akan sangat fatal dibandingkan anak sekolah yang sebatas kehilangan uang jajan, apabila saham yang dibeli kemudian merugi.

Untuk itu cara pertama yang harus dihindari adalah risiko terkonsentrasi. Kita pun tahu itu yang dilakukan oleh manajemen SVB yang mengabaikan pengelolaan risiko yang seharusnya sudah menjadi pilihan default dalam pengelolaan bank seperti sumber dana pihak ketiga yang tidak terdiversifikasi. Demikian pula penempatan aset yang tidak tersebar risikonya dengan baik. Apabila praktek kehati-hatian tersebut yang dilakukan, mungkin saja masa depan yang terjadi adalah berbeda dengan yang terjadi minggu lalu. Dan tentu saja direksi SVB sekarang tidak dalam posisi dikecam dan mungkin malah menikmati bonus serta dielu-elukan sebagai manajemen yang baik.

Tapi seperti kalimat yang juga saya tulis:

Jika Anda melihat seseorang memenangkan satu juta dolar, hal itu tidak mengubah peluang memenangkan lotere.

Artinya apa? Jangan pernah menilai suatu semata dari hasilnya, outcome. Baik hasil berupa nilai investasi, karir, pencapaian hidup, harta maupun hal lain. Namun sebaiknya dengan menilai dari proses yang dilakukan, yang dijalani. Kemenangan satu milliar dolar, yang berasal dari 'judi' tebak-tebakan buah manggis hanya berarti orang tersebut beruntung, bukan berarti pintar atau pertanda proses yang baik. Hasil yang 'buruk' bukan berarti bahwa prosesnya juga buruk. Karena hasil yang baik dapat berasal dari proses yang buruk, dan sebaliknya, hasil yang buruk dapat berasal dari proses yang baik.

Sebagaimana Russo dan Schoemaker di bawah ini:

ProsesHasil BaikHasil Buruk
BaikKeberhasilan yang layakKesialan
BurukKeberuntungan semataKeadilan puitis

Dari matriks di atas terdapat empat pasang proses dan hasil. Apabila proses yang ditempuh baik, serta hasilnya baik maka itu sesuatu yang sudah sepantasnya. Kemudian apabila proses yang buruk menghasilkan hasil buruk maka itu adalah suatu keadilan. Sementara itu apabila proses baik namun hasilnya buruk itu, maka itu adalah suatu kesialan. Dan terakhir apabila proses yang dilalui buruk namun hasilnya baik, maka itu adalah keberuntungan semata.

Beli Aset Apa Nih?

Dalam konteks tersebut di atas maka membeli aset apa, atau 'bertaruh' atas satu aset apa yang akan berkinerja di masa depan merupakan tindakan yang kurang bijak. Proses yang baik tentu akan mempertimbangkan risiko yang relevan, seberapa besar keyakinan, ukuran yang tepat dan sangat tergantung tujuan yang ingin dicapai, dan faktor lainnya. Risiko terkonsentrasi tentu harus dihindari. Caranya, dengan melakukan diversifikasi. Seperti selalu dikatakan diversifikasi adalah satu-satunya makan siang gratis.

Karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Kita hanya bisa mengira-ngira. Fluktuasi harga atau nilai dari aset yang kita miliki bukanlah risiko sebenarnya. Paling tidak menurut Berstein (2013), fluktuasi atau volatilitas adalah risiko dangkal atau risiko yang ringan. Sementara risiko sebenarnya adalah ketika tujuan keuangan kita tidak tercapai. Dan salah penyebabnya adalah risiko dalam: kehilangan modal permanen. Kalau anda bertaruh terhadap hasil tunggal di masa depan, dalam horizon tertentu dan kemudian salah, akibatnya bisa sangat fatal. Anda mungkin juga sudah tidak bisa mengulangi taruhan yang berbeda karena hal tersebut membutuhkan waktu yang lama. Contoh paling gampang tentu seperti pensiunan di atas. Setelah 30 tahun berinvestasi secara terkonsentrasi dan semuanya berjalan lancar, aman sentosa, dan tiba-tiba aset yang anda miliki tersebut gagal bayar, hilang atau rugi melebihi dari yang bisa anda tanggung. Anda tidak memiliki sisa waktu yang cukup untuk dapat memulihkan kerugian tersebut.

Seperti dikatakan Elroy Dimson dari London Business School: risiko adalah apa yang akan terjadi, bukan hanya yang dapat terjadi. Hal-hal yang tidak dihitung dapat terjadi. Karena kita hanya bisa menilai apa yang kita capai sekarang dengan proses sekarang setelah kejadian. Seperti ilustrasi berikut: Jalur hidup yang kita jalani tentunya hanya satu, karena itulah yang telah terealisasi dan kita lalui. Historis. Namun masa depan masih berisi kemungkinan-kemungkinan yang luas dan beragam yang dapat berarti apa saja, penuh ketidakpastian. Karena itu kita harus mempertimbangkan apabila masa depan yang kita perkirakan ternyata realisasinya berbeda dari rata-rata kemungkinan yang ada.

Dengan pertimbangan bahwa kita mungkin salah maka untuk kepentingan berjaga-jaga (istilah Graham: margin of safety) maka ada baiknya kita menskala risiko. Dengan melakukan alokasi aset yang tepat. Alokasi aset yang tepat lebih penting (Brinson, Hood and Beebower, 1986) dibandingkan kemampuan memilih waktu untuk beli dan jual dan kemampuan memilih aset.

Dalam alokasi aset, pilihan menurunkan risiko tentu saja dengan dengan mengatur proporsi penempatan pada aset bebas risiko. Apa itu contoh aset bebas risiko? Ya obligasi negara, SBN atau populernya: obligasi. Dengan menskala penempatan pada obligasi kita dapat mengatur seberapa besar risiko yang dapat kita terima. Lebih jauh besarnya risiko tersebut kemudian menentukan seberapa mungkin kita untuk mengalami kerugian. Semakin besar risiko, semakin mungkin kita rugi, semakin mungkin kita tidak mencapai tujuan keuangan kita.

Dari grafik Garis Alokasi Modal (CAL) dapat dilihat spektrum sepanjang garis CAL yang dibagi di tengah oleh angka risiko dari komposisi ideal. Menurun ke sebelah kiri artinya kita menempatkan lebih banyak pada obligasi (disebut meminjamkan) serta apabila meningkat ke arah kanan itu artinya kita mengambil risiko lebih banyak lagi dengan bahkan meminjam uang untuk ditempatkan dalam investasi.

Risiko penurunan atau kehilangan modal permanen semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya risiko, sebagaimana dalam garis CAL. Namun dalam garis CAL tersebut hal tersebut tidak secara gamblang diilustrasikan. Karenanya ilustrasi dari investor Howard Marks menggambarkan risiko tersebut dengan cara yang sangat baik di mana semakin ke kanan garis CAL, distribusi dari return semakin lebar sehingga untuk tingkat risiko tertentu return dapat menjadi di bawah return yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan ataupun kehilangan modal.

Dan karena itu apabila anda ingin bertahan maka harus memfokuskan kepada pelestarian modal, sesuai ajaran Buffett, dengan tidak mengalami kerugian yang terealisasi. Bukan semata fluktuasi yang bersifat belum terealisasi, namun kerugian yang terealisasi.

Aturan No. 1: Jangan Pernah Kehilangan Uang.
Aturan No. 2: Jangan Pernah Lupa Aturan No. 1
— Warren Buffett

Jadi selalu skala risiko sehingga Anda tidak pernah rugi. Namun karena tentu saja 'tidak pernah' artinya 'tidak pernah terjadi', mungkin 'jarang terjadi'. Karena investor sehebat Buffett pun juga pernah rugi, pernah memotong rugi.

© 2026 - Semua hak dilindungi undang-undang. PT dengan modal Rp 10.000.000.000. Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan 12190