Bab 123: Pintu yang Tidak Dibanting
Sudut Pandang Leif—Kemudian—Kamar Leif
Ketika aku mendorong pintu kamarku terbuka, kupikir akan sunyi.
Tapi aku...tidak siap melihatnya seperti itu.
Alvar berdiri di dekat pintu—tanpa baju zirah, tanpa mantel resminya—hanya mengenakan piyama biasa. Abu-abu lembut, lengan digulung, rambut basah sehabis mandi. Dia terlihat... seperti di rumah. Dia terlihat seperti tempat amanku.
Dia hampir menabrakku. "Apa—"
Aku mendongak. "Alvar?"
Matanya menatap mataku, lalu melewatiku. Tidak dingin. Tidak marah.
Lebih buruk.
Jauh.
"Kau mau ke mana?" tanyaku, sudah tahu aku takkan menyukai jawabannya.
Dia tidak ragu. "Ke kamar tamu," katanya pelan. "Aku akan tidur di sana malam ini."
Sesuatu dalam diriku menegang.
"...Apa maksud—"
Dia bergerak melewatiku.
Refleks. Panik. Aku memegang pergelangan tangannya. "Alvar, apa yang kau lakukan?"
Dia berhenti.
Tapi dia tidak menatapku.
Bab 124: Ketika Dewa Menyebutnya Kasih Sayang
Sudut Pandang Leif — Alam Putih—Kelanjutan
Untuk sedetik, dia tidak menjawab.
Matanya, hijau dan tenang, menahan pandanganku dalam keheningan yang terasa terlalu disengaja—seolah dunia sendiri sedang menunggu izinnya untuk bernapas.
Kemudian dia tersenyum. Perlahan. Familiar. Menakutkan.
"Siapa aku?" dia mengulangi dengan lembut, seolah sedang mencoba kata-kata tersebut. "Anakku, kau telah mengenalku sejak hari hatimu pertama kali mulai mengingat."
Aku mengerutkan dahi. "Itu bukan jawaban."
"Memang jawaban," katanya sederhana, berjalan mendekat—kaki telanjangnya tidak pernah menyentuh tanah. Udara berkilauan di tempat dia bergerak, dan cahaya membengkok di sekitarnya seolah ingin memujanya. "Kau hanya belum memahaminya."
"Aku tidak datang untuk teka-teki." Suaraku memecah keheningan, terlalu keras, terlalu manusiawi lagi. "Aku ingin kebenaran. Tidak ada lagi jawaban setengah-setengah."