Penulis
- Muhammad Chaidar Natsir
- Sitti Aisyah
- Anwar Zainuddin
- Nursyams Nursyams
- Dewi Salmita
- Rasman Rasman
- Umi Wahyuni MD
- Muhammad Syarif Nurdin
Abstrak
Kualitas layanan yang buruk, baik dari segi fasilitas maupun kerukunan beragama, masih menjadi kendala signifikan bagi pengembangan destinasi wisata halal. Selain itu, wacana pariwisata halal selama ini lebih banyak berfokus pada aspek normatif halal, sementara dimensi keberlanjutan lingkungan belum mendapat perhatian penuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengembangan pariwisata halal di desa Talole dengan menafsirkan ulang model crescentrating berdasarkan ekoteologi. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan analisis Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Tolole memiliki potensi yang sangat baik sebagai destinasi wisata halal, didukung oleh akses transportasi, promosi digital, keterlibatan masyarakat, dan penyediaan makanan halal. Namun, dari perspektif ekoteologi, terdapat kelemahan berupa bias antroposentris dalam aksesibilitas, komunikasi pragmatis, praktik lingkungan yang bersifat seremonial, dan layanan parsial karena terbatasnya fasilitas ibadah dan sanitasi. Selanjutnya, model crescents GMTI konvensional belum menjawab tantangan keberlanjutan ekologis. Oleh karena itu, reinterpretasi model crescent menjadi ACES-E (aksesibilitas, komunikasi, lingkungan, layanan–ekoteologi) menggeser paradigma pariwisata halal dari ramah-Muslim menjadi bertanggung jawab-Muslim, yang menekankan kesalehan ritual dan ekologis.
Kata Kunci
pariwisata halal, model crescentrating, ekoteologi