Abstrak
Daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) merupakan tanaman obat tradisional yang memiliki kandungan metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin dan tannin yang memiliki efek sebagai antioksidan. Diabetes mellitus yang tidak terkontrol akan menjadi salah satu pemicu tingginya radikal bebas dalam tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek pemberian ekstrak daun ekor naga yang memiliki potensi sebagai antioksidan terhadap kadar malondialdehid sebagai penanda prooksidan pada tikus diabetes mellitus yang diinduksi aloksan. Metode penelitian menggunakan post test only control group design. Hewan uji yang digunakan berjumlah 20 ekor masing-masing kelompok 5 ekor hewan uji. Kelompok 1: Kontrol Positif (Glibenklamid 10 mg/Kg BB), Kelompok 2: Kontrol Negatif (Na CMC 0,5%), Kelompok 3: Ekstrak daun Ekor Naga 250 mg/Kg BB, dan Kelompok 4: Ekstrak daun Ekor Naga 500 mg/Kg BB. Data yang diambil adalah kadar malondialdehid dalam darah. Hasil di analisa dengan menggunakan anova 1 arah dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ekor naga memiliki peranan dalam menurunkan kadar Malondialdehid atau prooksida lipid dalam darah pada tikus diabetes mellitus. Dimana dosis terbaik adalah 500 mg/Kg dengan hasil malondialdehid sebesar 0,569 nmol/mL. kemudian diikuti dosis 250 mg/Kg BB dengan nilai malondialdehid sebesar 2,144 nmol/mL.
Kata kunci: Daun Ekor Naga, Malondialdehid, Diabetes, Aloksan.
Pendahuluan
Diabetes mellitus merupakan penyakit yang ditandai dengan peningkatan kadar gula darah (hiperglikemia). Penyakit ini dapat menjadi penyebab kerusakan yang serius pada organ tubuh seperti ginjal, jantung, pembuluh darah, dan saraf. Penyakit diabetes mellitus sudah menjadi penyebab terjadinya morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Jumlah penderitanya selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Menurut prediksi pada tahun 2040 jumlah penderitanya mencapai 642 juta jiwa di negara-negara berkembang (1). Kondisi hiperglikemik pada penderita diabetes mellitus menjadi pemicu peningkatan pembentukan radikal bebas atau Reactive Oxygen Species (ROS) yang berakibat pada kerusakan jaringan pada bagian sel beta langerhans pada pankreas sehingga pankreas tidak mampu menghasilkan insulin. Malondialdehid (MDA) merupakan marker stress oksidatif dalam tubuh yang pengukurannya lebih murah dan mudah (2–4). Peningkatan kadar malondialdehid (MDA) dipengaruhi peningkatan produksi ROS. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa kadar malondialdehid dapat dideteksi melalui plasma darah, serum, dan berbagai jaringan seperti jaringan ginjal (5,6). Penggunaan obat antidiabetes telah banyak di pasaran baik dari sumber sintetis maupun dari alam. Namun adanya permasalahan mikro dan makro selalu menjadi permasalahan di seluruh dunia (7). Permasalahan tersebut menjadi pemicu mulai dikenalkannya pengobatan alternatif yang berasal dari alam (8,9). Daun ekor naga merupakan salah satu tanaman tradisional yang banyak dimanfaatkan oleh masyarakat untuk mengatasi berbagai macam penyakit. Berbagai penelitian juga telah membuktikan bahwa ekstrak daun ekor naga memiliki banyak efek di antaranya menghambat pertumbuhan sel kanker, antihiperurisemia, antibakteri, antiinflamasi, antihiperglikemik dan lain-lain (10–13). Penelitian sebelumnya juga menyatakan bahwa ekstrak etanol daun ekor naga memiliki kandungan senyawa metabolit sekunder yaitu alkaloid, flavonoid, dan tannin memiliki sifat sebagai agen antioksidan yang mampu berperan sebagai penurun stress oksidatif (14,15). Berdasarkan permasalahan di atas, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar malondialdehid pada tikus diabetes tipe II yang diinduksi aloksan.
Metode Penelitian
Alat Penelitian
Kandang individual, sonde oral tikus, spuit 1 mL, gunting bedah, timbangan digital, labu ukur, erlenmeyer, rotary evaporator, beaker glass, spektrofotometer UV-Vis.
Bahan Penelitian
Daun ekor naga (Rhaphidophora pinnata (L.f) Schott) yang telah diidentifikasi, Etanol 70%, Na, akuades, pereaksi Dragendorf, Mayer, Wagner, aloksan, amoniak, asam paraffin, TBA, trikloroasetat, glibenklamid, asam asetat anhidrat, asam sulfat pekat, HCl 2 N, FeCl3 1%, dan eter.
Hewan Uji
Hewan uji yang digunakan pada penelitian ini adalah 20 ekor tikus putih jantan dengan kriteria berat badan 200-250 gram, berumur 2-3 bulan, jenis kelamin jantan, dan berada dalam keadaan sehat dan normal.
Ekstraksi Daun Ekor Naga
Ekstraksi daun ekor naga dilakukan dengan metode maserasi menggunakan pelarut etanol 70%. Serbuk simplisia dimasukkan ke dalam bejana, kemudian tambahkan pelarut etanol 70% dengan perbandingan 1:10 hingga serbuk terendam sempurna, lalu ditutup dan dibiarkan selama lima hari terlindung dari cahaya sambil diaduk. Kemudian campuran diserkai dan ampasnya diremaserasi dengan penyari etanol 70% hingga terendam dan dibiarkan selama 2 hari, lalu dienap tuangkan sehingga diperoleh maserat. Maserat lalu dipekatkan dengan bantuan alat rotary evaporator pada suhu tidak lebih dari 40°C dan diperoleh ekstrak kental. Ekstrak kental yang diperoleh kemudian disimpan di dalam lemari pendingin pada bagian rotary evaporator dan ekstrak yang diperoleh dihitung hasil rendemennya.
Skrining Fitokimia
Timbang sebanyak 0,25 gram ekstrak daun kayu manis masukkan ke dalam tabung reaksi tambahkan 5 mL akuades dan 5 mL kloroform asetat kocok kuat. Kemudian biarkan hingga terbentuk 2 lapisan air (atas) dan kloroform (bawah).
- Alkaloid: Ambil lapisan kloroform sebanyak 6 tetes tambahkan kloroform amoniak 0,05 N sebanyak 2 mL aduk secara perlahan. Kemudian tambahkan 6 tetes H2SO4 2 N kocok perlahan dan biarkan memisah. Ambil lapisan bawah tambahkan pereaksi Mayer reaksi positif jika adanya terbentuk kabut putih hingga endapan putih. Jika lapisan bawah ditambahkan dengan pereaksi Dragendorf akan terbentuk endapan coklat.
- Flavonoid: Ambil lapisan air sebanyak 6 tetes tambahkan sedikit serbuk Mg. Kemudian tambahkan HCl (p) maka akan terbentuk warna merah menandakan adanya flavonoid.
- Steroid dan Terpenoid: Ambil lapisan kloroform 10 tetes tambahkan asam asetat anhidrat 0,5 mL tambahkan asam sulfat pekat sebanyak 2 mL. Jika positif steroid akan terbentuk cincin biru kehijauan. Sedangkan positif terpenoid akan terbentuk cincin kecoklatan atau violet.
- Tanin: Ambil lapisan kloroform 10 tetes tambahkan 10 tetes FeCl3 1%. Ekstrak positif tanin jika terbentuk warna hijau kehitaman.
- Saponin: Ambil lapisan air lakukan pengocokan kuat-kuat pada tabung reaksi terbentuknya busa yang permanen (± 15 menit) menunjukkan adanya saponin.
Induksi Diabetes
Perlakuan dibagi menjadi 4 kelompok: Kelompok I: Kontrol Negatif; Kelompok II: Kontrol Positif (glibenklamid 10 mg/Kg BB); Kelompok III: Ekstrak daun ekor naga dengan dosis 250 mg/Kg BB; Kelompok IV: Ekstrak daun ekor naga dengan dosis 500 mg/Kg BB. Semua hewan uji diberikan aloksan monohidrat 150 mg/Kg BB secara intraperitoneal sebagai penginduksi diabetes mellitus. Pemberian dilakukan selama 3 hari dengan membandingkan glukosa awal dan akhir jika sudah melebihi 200 mg/dL maka tikus dianggap telah mengalami diabetes. Pemberian perlakuan dilakukan selama 14 hari.
Penentuan Kadar Malondialdehid Plasma
Pengukuran kadar Malondialdehid mengikuti metode penelitian yang telah dilakukan. Sampel darah diambil pada hari ke-15 perlakuan. Pengambilan dilakukan secara intrakardial kemudian sampel darah dimasukkan dalam tabung EDTA. Sampel tersebut disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit untuk memisahkan plasma darahnya. Plasma darah tikus diambil sebanyak 50 μL ditambahkan akuades sebanyak 1 mL, TCA 20% 1000 μL, HCl 1 N 250 μL, dan Na-TBA 1% 100 μL. Kemudian larutan tersebut divorteks agar homogen dan dipanaskan dalam air mendidih selama 30 menit. Setelah itu lakukan inkubasi larutan selama 10 menit pada suhu ruang. Larutan yang telah dingin disentrifugasi dengan kecepatan 3000 rpm selama 10 menit lakukan pengambilan supernatannya. Serapan diukur dengan spektrofotometri UV-Vis dengan panjang gelombang 532 nm.
Analisis Data
Analisis data penelitian dilakukan dengan dua cara yaitu secara deskriptif (karakteristik ekstrak) dan menggunakan Program SPSS 23 uji anova 1 arah (Kadar Malondialdehid) dengan tingkat kepercayaan 95%.
Hasil dan Pembahasan
Ekstrak Daun Ekor Naga
Ekstrak daun ekor naga diperoleh dengan melakukan ekstraksi dengan metode maserasi yang melibatkan perendaman bahan tumbuhan (serbuk simplisia). Keuntungan ekstraksi dengan menggunakan metode maserasi yaitu dengan menggunakan peralatan yang sederhana, tidak menggunakan pemanasan, sehingga bahan alat tidak terurai (16). Pada proses maserasi digunakan sebanyak 700 g serbuk simplisia dengan menggunakan pelarut etanol 70% diperoleh ekstrak sebanyak 61 gram.
Skrining Fitokimia
Skrining fitokimia adalah tahap pendahuluan dalam melakukan suatu penelitian dengan tujuan untuk mengetahui gambaran golongan senyawa yang terkandung dalam tumbuhan yang digunakan. Data dilihat pada tabel 1.
| Uji Fitokimia | Hasil Pengamatan |
|---|---|
| Flavonoid | + |
| Alkaloid | + |
| Saponin | + |
| Tanin | + |
| Steroid/Triterpenoid | + |
| Fenol | + |
Keterangan: (+) = Positif mengandung senyawa.
Hasil pemeriksaan skrining fitokimia menunjukkan bahwa ekstrak etanol daun ekor naga memiliki kandungan metabolit sekunder flavonoid, alkaloid, saponin, tanin, steroid, dan fenol. Hasil ini sejalan dengan penelitian sebelumnya (17-19). Hasil pengukuran kadar Malondialdehid darah pada penelitian ini didapatkan bahwa tikus diabetes dengan penginduksi aloksan terlihat adanya peningkatan pada kontrol negatif. Hasil juga menunjukkan bahwa adanya efek pemberian ekstrak etanol daun ekor naga di mana semakin tinggi ekstrak maka efek penurunan kadar malondialdehid semakin baik. Pada pemberian ekstrak etanol daun ekor naga dosis terbaik adalah 500 mg/Kg BB. Secara statistik memiliki perbedaan yang bermakna (p<0,05) jika dibandingkan dengan kontrol negatif. Hasil pengamatan dapat dilihat pada Tabel 2.
| Perlakuan | Malondialdehid (nmol/mL) ± SD | Sig |
|---|---|---|
| Kontrol Negatif | 2,868 ± 0,16 | 0,000 |
| Kontrol Positif | 0,595 ± 0,89 | |
| Ekstrak 250 mg/Kg BB | 2,114 ± 0,37 | |
| Ekstrak 500 mg/Kg BB | 0,569 ± 0,54 |
Keterangan: a. Nilai signifikansi ditentukan dengan analisis anova satu arah dengan tingkat kepercayaan 95%. b. Superskrip dengan huruf kecil yang berbeda menunjukkan perbedaan yang nyata (P<0,05).
Kondisi diabetes mellitus yang tidak terkontrol akan menyebabkan produksi radikal bebas akan tinggi melebihi kemampuan antioksidan dalam tubuh untuk mengatasinya atau dikenal dengan peningkatan stress oksidatif. Malondialdehid (MDA) merupakan salah satu dari produk akhir dari lipid peroksida yang mudah untuk dideteksi dalam darah (18,19). Penurunan kadar MDA darah setelah pemberian ekstrak etanol daun ekor naga karena tanaman tersebut memiliki senyawa metabolit sekunder alkaloid, flavonoid, saponin, dan tanin yang berperan sebagai antioksidan (20). Flavonoid pada ekstrak daun ekor naga dapat bereaksi dengan anion superoksida dan konstran dalam menghambat lipid peroksida sehingga dapat menurunkan kadar MDA. Flavonoid mampu menetralisasikan radikal bebas dengan menyumbang ion H+ untuk berubah bentuk menjadi H2O yang lebih stabil. Selain itu flavonoid juga mampu menghambat free radical-producting enzyme seperti xanthine oxidase, lipoxigenase, protein kinase C, microsomal monoxygenase, NADPH oxidase, dan mitokondrial suksinase yang membuat flavonoid sebagai antioksidan seluler (21,22). Saponin memiliki mekanisme kerja sebagai free radical scavenger yang memiliki kekuatan reduksi dan kemampuan iron chelating yang sangat baik dalam pengobatan penyakit yang disebabkan karena radikal bebas. Saponin mampu meningkatkan pemakaian glukosa oleh hepar, menurunkan proses glukoneogenesis, menghambat enzim glukosa-6-fosfat, fruktosa 1,6-bifosfatase, serta mampu meningkatkan oksidasi glukosa dengan mengaktifkan glukosa-6-fosfat dehidrogenase melalui shut pathway (23,24). Sedangkan tanin bekerja dengan cara menghambat enzim peroksidatif dan peroksidasi lipid sehingga mampu mengurangi kekuatan oksidasi dan aktivitas radikal bebas. Demikian juga dengan alkaloid (21).
Simpulan
- Ekstrak daun ekor naga memiliki pengaruh bermakna (p<0,05) terhadap penurunan nilai kadar Malondialdehid (MDA) darah tikus putih jantan diabetes mellitus tipe II yang diinduksi aloksan.
- Dosis terbaik adalah dosis 500 mg/Kg BB. Kemudian diikuti dosis 250 mg/Kg BB. Secara statistik memiliki pengaruh yang bermakna dalam penurunan kadar MDA darah.