Image description
us president betting
Pasar Taruhan Miliaran Dollar AS Jagokan Trump

Pasar Taruhan Miliaran Dollar AS Jagokan Trump

Pasar taruhan menggila ketika pemungutan suara pemilihan presiden Amerika Serikat semakin dekat. Miliaran dollar AS dalam bentuk tunai atau mata uang digital yang berputar di pasar taruhan telah menarik minat banyak kalangan. Upaya otoritas untuk mengatur, bahkan menghentikan taruhan pada peristiwa politik besar empat tahunan di AS mendapat perlawanan. Sejumlah tim sukses turut meramaikan dengan menanamkan modalnya pada pengelola pasar taruhan.

Sejauh ini, pasar taruhan menempatkan calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump, unggul jauh di atas calon presiden dari Partai Demokrat, Kamala Harris. Pasar taruhan Polymarket yang berbasis mata uang kripto, Jumat (25/10/2024), memperlihatkan kecenderungan Trump memenangi pemilihan. Di pasar taruhan lainnya, Kalshi, Trump unggul atas Harris 56 persen berbanding 44 persen.

Kecenderungan itu membuat setidaknya empat akun di Polymarket memasang taruhan besar, senilai masing-masing lebih dari 30 juta dollar AS untuk Trump. Laporan ini pertama kali diturunkan oleh media The Wall Street Journal yang kemudian diverifikasi oleh kantor berita Reuters. Sumber yang mengetahui masalah itu tetapi enggan disebut namanya mengatakan, keempat akun tersebut bukan milik warga negara AS, melainkan pengguna internasional. Tidak jelas apakah taruhan itu mewakili satu orang saja atau banyak orang.

Pakar politik dan pengguna media sosial mempertanyakan apakah orang AS tertentu mungkin berada di balik aksi tersebut.

Seorang petaruh yang menggunakan nama samaran "Redegen" mengambil posisi cukup berisiko di pasar Polymarket dengan mendukung Harris. Mengutip laman Benzinga, dia meyakini calon presiden perempuan itu bisa memenangi suara terbanyak dalam pemilihan bulan depan. Sementara penentuan siapa yang akan melaju ke Gedung Putih sebenarnya ditentukan oleh suara dewan elektoral.

Melalui X, Redegen mengatakan, dia bisa untung hingga 4 juta dollar AS jika Harris benar-benar mendapatkan dukungan mayoritas warga AS. Entah bagaimana dia mengaitkan dukungan mayoritas warga AS dengan kebijakan kendaraan listrik di negara itu di masa depan. Namun, dia menyinggung soal stabilitas dukungan warga terhadap Harris dalam berbagai jajak pendapat dibandingkan dengan Trump. Redegen memperkirakan Trump hanya memiliki peluang kurang dari 15 persen untuk memenangi suara pemilih dan mengalahkan Harris.

Beberapa jajak pendapat, salah satunya oleh The Washington Post, memperlihatkan Harris unggul dua poin persentase atas Trump hingga saat ini. Akan tetapi, hal itu tidak membuat pasar taruhan menjagokan Harris atas Trump.

Total jumlah uang yang berputar di pasar taruhan Polymarket mencapai 2 miliar dollar AS hingga Jumat pekan lalu. Perusahaan yang bermarkas di New York ini menerima puluhan pengunjung yang ingin bertaruh setiap bulan.

CEO Kalshi Tarek Mansour mengatakan, jumlah pengguna situsnya bertambah dua kali lipat dari hari ke hari sejak Pengadilan Distrik Columbia membatalkan keputusan Komisi Perdagangan Komoditi Berjangka (CFTC) yang melarang taruhan peristiwa politik, 2 Oktober. CFTC mengajukan banding atas keputusan tersebut.

Sebulan sebelum keputusan pengadilan muncul, Ketua CFTC Rostin Behnam mengatakan, situasi itu akan membuat lembaganya menjadi pengawas pemilu, yang bukan mandatnya. "Masuk akal jika CFTC memiliki wewenang untuk memerangi penipuan, manipulasi, dan pelaporan palsu di pasar komoditas. Tetapi, tidak praktis bagi CFTC untuk memerangi mereka dalam pasar yang mendasarinya di sini, sebuah kontes politik," katanya. Sederhananya, CFTC menentang perdagangan politik, terutama taruhan yang dikaitkan dengan peristiwa politik, termasuk pemilu.

Kegiatan semacam itu pada dasarnya akan mengurangi aspek-aspek utama dari proses demokrasi.

Dalam pernyataan melalui surat elektronik, Kalshi mengatakan, melonjaknya peluang Trump di pasar taruhan adalah bentuk aktivitas pasar yang normal. "Trump semakin populer dan pasar taruhan mengumpulkan informasi dari khalayak yang lebih luas, lebih cepat dibandingkan dengan jajak pendapat," kata Kalshi.

Pasar taruhan kini mendapat perhatian lebih besar di kalangan pengusaha teknologi, keuangan, dan mata uang digital kripto. Bloomberg secara khusus menambahkan pasar taruhan Polymarket dalam layanan terminalnya bersama dengan data jajak pendapat tradisional lainnya yang banyak digunakan pebisnis dan analis bisnis keuangan.

Polymarket berdiri tahun 2020 dan merupakan pasar taruhan terbesar. Namun, pasar ini hanya terbuka untuk pengguna internasional (non-AS). Meski begitu, sudah banyak beredar kiat bagi warga AS untuk bisa masuk dan bermain di dalamnya, salah satunya menggunakan jaringan pribadi virtual (VPN).

Walau tidak membuka pintu bagi petaruh asal AS, para pendukung utama perusahaan ini adalah warga AS. Beberapa di antaranya adalah orang-orang yang dekat dengan Trump. Peter Thiel, mentor calon wakil presiden dari Partai Republik, JD Vance, diketahui menyuntikkan dana hingga 100 juta dollar AS untuk pengembangan pelantar ini. Begitu pula Vitalik Buterin, pencipta mata uang digital Ethereum, diketahui adalah simpatisan Trump.

Situasi itu membuat banyak pihak khawatir, khususnya dengan efek taruhan terhadap demokrasi di AS. Apalagi, menurut analisis situs LayerHub, mayoritas dari 210.000 pengguna Polymarket telah kehilangan sejumlah kecil uang di pelantar tersebut. Dalam catatan mereka, hingga Jumat, hanya 12 persen pengguna yang memperoleh keuntungan.

Beberapa pengamat khawatir, mengaitkan uang secara langsung dengan hasil politik akan berdampak buruk. "Kita hidup di masa ketika demokrasi kita rapuh," ujar Cantrell Dumas, Direktur Kebijakan Derivatif di Better Markets, kelompok advokasi reformasi keuangan.

Keunggulan di pasar taruhan membuat Trump dan pendukungnya senang. Elon Musk, taipan teknologi pendukung Trump, mengunggah keunggulan mereka di Polymarket melalui akun X miliknya sembari menyebut prediksi pasar lebih akurat dibandingkan dengan jajak pendapat. Beberapa hari kemudian, giliran Trump mengunggah hal yang sama di Truth Social, pelantar media sosial miliknya.

Robert Erikson, profesor ilmu politik Universitas Columbia, dalam penelitian bersama Christopher Wlezien dari Universitas Texas, menemukan, meski banyak petaruh berpandangan jajak pendapat memiliki bias lebih buruk dibandingkan dengan prediksi pasar, kenyataannya memperlihatkan situasi sebaliknya. "Perbedaan yang biasa terjadi antara jajak pendapat dan pasar adalah pasar menilai terlalu tinggi kelompok yang tidak diunggulkan," Erikson. (Reuters)

© 2026 - Semua hak dilindungi undang-undang. PT dengan modal Rp 10.000.000.000. Jl. Jend. Sudirman Kav. 52-53, Jakarta Selatan 12190